Happy New Year!

Unlike last year, I don’t have any puzzle planned. I’m constructing an LMI test for April or May, and considering that I just finished my first semester of university a week or so ago, I’ve been taking the holiday for my usual computer stuff: programming, browsing the net, playing some games…

So what have I done in 2013?

Continue reading

Selesai Sudah.

This post is in Indonesian. Sorry, but I don’t feel like I want to post a translation.

Saat post ini muncul, 31 Mei 2013 jam 20.30, kita sudah bukan lagi anak sekolah (harusnya, kalo acara wisuda ga molor).

12 tahun yang luar biasa. Belajar berbagai ilmu, bertemu banyak teman baru, mendapat banyak pengalaman. Namun 12 tahun tersebut sudah berlalu. Segala sesuatu mempunyai awal dan akhir. (Jangan komen soal math. Ikr pernyataannya salah, but let’s take it poetically.) Teman, kita sudah menjalani banyak tahun bersama, dan kita harus menghadapi kenyataan bahwa kita tidak sekolah selamanya. Kita akan berpisah, menjalani hidup masing-masing, berpencar ke seluruh penjuru dunia.

Glenn, Kane, dan Yohanes. Kalian teman yang luar biasa. Rasanya ga ada kata-kata yang dapat menjelaskan betapa berartinya kalian.

Joey, Jay, Yosua. Kalian teman yang baik diajak ngobrol, diajak main game, dan banyak hal lainnya. Dan juga aku jadi tau setidaknya apa yang anak remaja yang “normal” suka obrolin.

Antonio, Peter, Echa. Saingan terberat di kelas, yang selalu memotivasiku untuk menjadi yang terbaik. Kita lihat pertarungan terakhir di nilai akhir. (Plus, kalian jadi teman main kartu yang bagus 😛 )

Sandra, Anna, Elisabeth, Jesslyn, Sharon, Yoane. Enam orang yang suka main kartu juga. Selain itu, enam orang yang sering nanya math 😛 Tapi bukan berarti kalian tidak diharapkan; aku justru berterima kasih. Aku bisa berbagi ilmu, aku bisa latihan mengajar, dan semoga kalian bisa memakai ilmu yang sudah diberikan. (Setidaknya cara berpikirnya; setiap kali diajarin, semua caranya runtut dan logis kan? Semoga kalian juga bisa berpikir runtut dan logis di kehidupan nyata.) And yes, if you’re wondering, I do liked Yoane. Not so much now though, dia udah tolak 😛

David, Mike, Adi, Merwyn, Mitzi. Rasanya kita kurang ada interaksi di kelas, tapi kalian tetap punya ciri khas masing-masing. David, dulu jadi pesaing ketat, sekarang nilainya jatoh. Tapi masih diperhitungkan. Mike, suka marah-marah, tapi intinya membantu aku untuk self-restrain. Adi, sedikit banyak mengajar musik. Merwyn…apa ya? Paling bikin kaget pas dapet 100 di kimia 😛 Mitzi mirip David. Dulu nilainya bagus, sekarang mulai padam cahayanya.

Syanne, rasanya kita ga pernah ngomong selama 3 tahun ini. Kalau kamu masih marah karena kejadian kelas 8/9, aku mau minta maaf, dan sekarang menunggu jawaban. Aku ga mau meninggalkan sekolah dengan satu masalah yang belum selesai. EDIT: Ok, dia maafin, yay 😀 Thanks ya, now I don’t think I left any problem with my social life 😀

Selain itu, orang selain kelas 12 IPA:

Indi. Salah satu terbaik di kelas juga, dan enak diajak ngobrol. Aku cukup tegang waktu kamu ngomong kelas 10 pindah sekolah, mikir bahwa temen-temennya kurang. Ternyata salah. Tapi tetep, kamu masih salah satu temen terbaik.

Wikki. Sama pendiamnya, pernah aku paksa ngerjain puzzle 😛 Kamu juga enak diajak ngobrol, bisa dengerin omonganku yang suka aneh arahnya.

Celia. Orang yang pernah saling bikin…something, lupa singkatannya, tapi yang bikin tulisan buat dibaca pas mau tidur (walaupun aku biasa bacanya right after getting it 😛 ). Juga orang paling pertama yang aku pernah suka crapcrapcrap wtf did i just write, dan sering diajak chatting tentang macem-macem.

There might be more, but I have terrible memory. Maaf kalau aku lupa nulis.

Buat guru-guru juga ada.

Guru favorit tetep P.Budi (Fisika). Guru paling gokil. 😛 Walaupun cuma ngajar setahun, impresinya luar biasa.

Guru kedua favorit ya B.Shintia (Biologi), yang udah ngajar 12 tahun biologi melulu. Good luck S2-nya 😀

Selanjutnya ada P.Juliawan (Math), B.Palupi (Kimia), Mr.Rein (Inggris). Masing-masing punya kesan sendiri. P.Jul punya ciri khas, kira-kira mirip P.Willy (Math kelas 11). B.Palupi jelas guru kimia yang paling berkesan, dan punya ciri khas ngajar dengan nada terkesan marah 😛 Mr.Rein guru paling baik secara non-akademik, yang paling care siswanya. Pelajaran Inggrisnya sendiri sih kurang berkesan 😦 tapi tetep bagus.

P.Rudi (B.Indonesia), P.Boyke (PKn), P.Helly (PE). Tiga guru ini punya kesamaan, sama-sama cukup gokil. Walaupun dalam kasus P.Rudi beda sendiri: gokil dengan memaksakan EYD yang benar di setiap saat 😛 P.Boyke sering cerita dan selalu bersemangat, dan P.Helly rasanya cukup jelas kerennya.

Guru-guru yang lain, walaupun kalian ga buat kesan yang terlalu besar, tapi kalian semua tetap luar biasa.

Well, selesai sudah. 12 tahun (walaupun beberapa temen cuma ketemu 6/9 tahun). 12 tahun yang luar biasa dalam hidup. Mungkin aku tidak akan menemukan lagi 12 tahun yang begitu berwarna seperti saat ini.

Thank you all, my dearest friends (even if you don’t consider me your friend). Till we meet again.

Time Limit

Well, apparently 15 minutes is not enough to complete the practical exam of measuring the acceleration caused by gravity by measuring the period of a pendulum.

Reasons:
– I forgot (read: didn’t think) to bring my calculator. Not that I have one anyway. The reason: I think the calculations are not going to be insane. I WAS WRONG. g = \dfrac{4\pi^2 l}{T^2} is hard to compute. Especially since I’m also asked to compute the frequency f = \dfrac{1}{T} although I very well won’t need it. (Eventually I changed so I compute g = (2\pi f)^2 l.)
– The stopwatch worked only 50% of the time. Imagine working alone, fixating your view to the swinging pendulum, just to find out that the stopwatch didn’t start. 30 seconds wasted.
– Delicate handwork. I took like 3 minutes to tie the nylon string that is weighed to the pivot. Double that, as I need to do the experiment twice with different nylon lengths.
– Stupid misguiding. When you’re told “10 minutes”, you think that there is 10 minutes left. Not too long after that (about 3 minutes), while I was still doing the experiment accurately (but hence slowly), I was told “1.5 minutes left”. Imagine my immediate panic.

Must play more time management games, not rhythm games.

Pushing Myself Over My Limits

It all began on Sunday. I tutored several people for 6 hours, from 2 PM to 8 PM, for Math finals we took on Monday.

Next, things get even more bizzare on Monday. 9 hours for Tuesday’s Physics.

And I overdid myself for tutoring 12 hours on Tuesday for today’s Chemistry.

The result? I was too tired, forgot pretty much everything and I can ony assure myself 50/100 score while I usually score high in the 90s.

Lesson: Don’t overdo yourself. Or if you do, learn everything so it sticks in your mind without being forgotten due to extreme tiredness.

Meh.